Minggu, 21 Juni 2020

MEREKA BISA MEROBOHKAN MENARA ADZAN TAPI TIDAK BISA MEROBOHKAN ISLAM

#Bahasa_Arab_Ideologis

مصور أوربي غير مسلم التقط هذه الصورة.
Seorang fotografer Eropa yang non muslim telah mengambil poto ini. 

سألوه عن سبب التقاطه الصورة.
Orang-orang bertanya padanya tentang alasan ia mengambil poto tersebut.

فأجابهم: 
Maka dia menjawab:  

يستطيعون إسقاط المأذن لكنهم لا يستطيعون إسقاط الإسلام!
Mereka bisa merobohkan menara adzan, tapi mereka tidak bisa merobohkan Islam !

Sabtu, 20 Juni 2020

BERKE KHAN, MUSLIM MONGOL PERTAMA PENYELAMAT DUNIA ISLAM

Mengenang Berke Khan, Muslim Mongol Pertama Penyelamat Dunia Islam

BERKE Khan merupakan salah seorang cucu dari sang pendiri dinasti Mongol, yakni Jengis Khan dari putranya yang bernama Jochi Khan.

Berke berkuasa pada (1257-1266) di wilayah yang diwariskan kakaknya yang bernama Batu Khan, meliputi Rusia, Bulgaria, Rumania, dan wilayah Kaukasus. Ia sendiri kemudian memperluas kekuasaannya sampai ke Polandia, dan Lithuania.

Berke Khan bersama Batu Khan mendapatkan mandat untuk menaklukan Eropa Timur, saat cucu Jengis Khan lain yang bernama Hulaghu Khan (dari ayah Tolui) mendapatkan tugas untuk menaklukan Asia Tengah dan Timur Tengah yang waktu itu menjadi wilayah kekuasaan muslim.

Dalam perjalanannya menuju Rusia, rombongan Berke yang menggunakan Jalur Sutra melewati Kota Bukhara, berpapasan dengan kafilah pedagang muslim. Pasukannya lalu menginterogasi mereka, dan Berke sangat terkesan oleh keberanian, ketenangan, dan ketangkasan seorang ulama yang menjadi juru bicaranya dalam menjawab semua pertanyaan yang diajukan. Berke kemudian memeluk Islam.

Ia sangat marah mendengar berita kebrutalan yang dilakukan sepupunya saat menaklukan dinasti Abbasiyah dengan pembantaian penduduknya yang tidak berdosa, merusak warisan ilmu yang dimiliki, serta menghancurkan berbagai bangunan bersejarah.

Setelah menaklukan Bagdad, Hulaghu dan pasukannya melanjutkan ekspidisinya ke Syria, kemudian memasuki Kota Damaskus tanpa perlawanan, karena Dinasti Ayubiyah yang merupakan penerus Salahuddin Al Ayyubi menyerah tanpa perlawanan.

Saat akan melanjutkan ekspidisinya ke Mesir, dengan cara yang sama Hulaghu mengirim surat melalui utusan, yang isinya meminta Sulthan Mesir untuk menyerah, jika tidak ingin mengalami nasib yang sama dengan keluarga Muhtasim di Bagdad.

Syaifudin Qutuz yang waktu itu sebagai Sulthan dari Dinasti Mamluk yang berkuasa di Mesir, marah menerima ancaman yang bernada melecehkan dirinya, ia lalu membunuh sang utusan.

Menyadari negaranya berada dalam ancaman pasukan Mongol, Qutuz lalu mengajak seorang panglima keturunan budak yang berkali-kali mengalahkan tentara Salib dalam berbagai pertempuran bernama Baibar.

Pada saat pasukan Mongol mulai menyusun rencananya meyerbuan ke Mesir, Hulaghu menerima berita bahwa saudaranya Monk yang menjadi orang nomor satu pada Dinasti Mongol meninggal dunia.

Karena khawatir pergantian kekuasaan berjalan tidak mulus, dan dirinya yang tidak berminat pada jabatan politik, akan sangat menentukan suksesi. Hulaghu memutuskan untuk kembali ke negerinya. Sedangkan tanggungjawab penyerbuan ke Mesir sekaligus sebagai Panglima Perang diserahkan kepada Qitbuka.

Sementara Qutuz dan Baibar terus mendiskusikan strategi, taktik, termasuk memilih medan perang yang tepat. Qutuz kemudian menerima informasi perkembangan yang terjadi pada pasukan Mongol termasuk kepulangan Hulaghu dan penugasan Qitbuga sebagai Panglima, kemudian menyimpulkan saat itulah waktu yang tepat.

Qutuz yang hanya memiliki sekitar 24.000 pasukan termasukan pasukan cadangan (bandingkan dengan pasukan Mongol yang berjumlah lebih dari 100.000), meminta sekitar 10.000 pasukannya menjaga Kota Kairo. Sekitar 15.000 pasukannya lalu berangkat menyusuri pantai ke arah Utara melewati Kota Gaza dan berhenti di Kota Acre.

Menyadari kalah banyak dalam jumlah pasukkan, Qutuz dan Baibar yang lebih menguasai medan, menempatkan para pemanah dan sebagian pasukannya di sekitar hutan berbukit berbentuk setengah lingkaran menyerupai bulan sabit. Di tempat inilah Talut pernah mangalahkan Jalut (David vs Goliat). Sementara sebagian lagi ditugasi untuk mencegat pasukan Mongol di jalan antara Damaskus-Kairo.

Saat pasukan Mongol tiba di Galilea, mereka disergap pasukan berkuda yang didukung invantri yang dipimpin oleh Baibar. Dalam pertempuran, pasukan Baibar terus-menerus mundur secara teratur ke arah Ain Jalut.

Sesampainya di Ain Jalut pasukan Mongol terkesiap dan baru menyadari jika mereka terperangkap di wilayah yang sempit sehingga tidak mudah melakukan manuver. Pasukan pemanah yang sudah menunggu langsung menghujani mereka dengan anak panah dari

bukit yang berada di kiri dan kanan. Disamping diuntungkan oleh posisi tinggi, pasukan pemanah juga dilindungi oleh rimbunnya pohon.  

Saat pasukan Mongol kacau, pasukan yang dipimpin oleh Qutuz turun dari ketinggian bukit menyergap mereka, sehingga Qitbuga sang panglima tertangkap dan langsung dieksekusi. Kematian sang pemimpin menyebabkan pasukan Mongol mengalami demoralisasi, lalu tunggang-langgang meninggalkan arena untuk menyelamatkan diri.

Saat Hulaghu kembali setelah berhasil menempatkan saudaranya Kubilai Khan sebagai orang nomor satu, ia diberitahu peristiwa yang dialami pasukan Mongol saat hendak menaklukan Mesir. Ia sangat marah bercampur bersedih. Marah karena ini untuk pertama kali pasukannya menderita kekalahan, dan bersedih karena kehilangan panglima yang sangat dibanggakannya.

Ia kemudian mempersiapkan pasukan yang sangat besar untuk membalas dendam. Mendengar rencana ini, Baibar lalu meminta bantuan Berke Khan. Berke dan pasukannya lalu menghadang pasukan Hulaghu Khan di wilayah antara laut Hitam dan laut Kaspia di sekitar sungai Terek.

Hulaghu yang mendapatkan pukulan dari sepupunya sendiri, dan besarnya kerugian yang dialaminya baik dalam bentuk moral maupun jumlah pasukan yang terbunuh, menyebabkannya tidak pernah bisa bangkit kembali, ia kemudian sakit dan menemui ajalnya pada tahun 1265, di Maragheh, Iran saat ini.

Buku-buku sejarah selalu menceritakan kehebatan tentara Mamluk Mesir yang dipimpin Qutus dan Baibar dalam pertempuran di Ein Jalud sebagai penyelamat dunia Islam dari kebrutalan bangsa Mongol, dan cendrung melupakan jasa Berke Khan. Padahal tanpa pertolongannya, bukan mustahil jalannya sejarah akan berbeda dari yang kita baca saat ini. Wallahua'lam. 

T.me/IslamSejarah

Senin, 15 Juni 2020

Ya Allah berilah kami Ilham untuk mensyukuri nikmat yang telah engkau berikan

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِّنْ قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِىٓ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِىٓ أَنْعَمْتَ عَلَىَّ وَعَلٰى وٰلِدَىَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صٰلِحًا تَرْضٰىهُ وَأَدْخِلْنِى بِرَحْمَتِكَ فِى عِبَادِكَ الصّٰلِحِينَ
"Maka dia (Sulaiman) tersenyum lalu tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa, Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh."
(QS. An-Naml 27: Ayat 19)

Firman Allah Swt.:

dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridai. (An Naml:19)

Yaitu amal yang Engkau sukai dan Engkau ridai.

dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh. (An Naml:19)

Artinya, apabila Engkau mewafatkan diriku, maka himpunkanlah daku bersama dengan hamba-hamba-Mu yang saleh, dan rafiqul a'la dari kekasih-kekasih-Mu.

Sementara ada sebagian ulama tafsir berpendapat bahwa lembah tersebut terletak di negeri Syam atau negeri lainnya, dan bahwa semut tersebut mempunyai dua buah sayap seperti lalat atau hal lainnya hanyalah merupakan dongengan-dongengan yang tidak ada kenyataannya.

Nauf Al-Bakkali mengatakan bahwa semut Nabi Sulaiman besarnya seperti serigala. Penukil mengatakan bahwa memang demikianlah saya jumpai dalam kitab salinannya memakai huruf ya, padahal sebenarnya memakai ba. Hal ini merupakan kekeliruan dari penyalinnya, hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui. (Kalau memakai ya artinya serigala, sedangkan kalau memakai ba artinya lalat). Yang tersimpulkan dari kisah ini ialah bahwa Sulaiman memahami ucapan semut itu, karenanya ia tertawa, hal ini merupakan suatu peristiwa yang sangat menakjubkan.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Harun, telah menceritakan kepada kami Mis'ar, dari Zaid Al-Ama, dari Abus Siddiq An-Naji yang telah menceritakan bahwa Sulaiman ibnu Daud a.s. keluar untuk meminta hujan. Tiba-tiba ia menjumpai seekor semut sedang terlentang seraya menghadapkan semua kakinya ke arah langit dan berdoa, "Ya Allah, sesungguhnya kami adalah salah satu dari makhluk-Mu. Kami memerlukan sekali siraman hujan-Mu. Jika tidak Engkau sirami kami, berarti Engkau akan membinasakan kami." Maka Sulaiman berkata, "Marilah kita pulang, sesungguhnya telah ada makhluk selain kalian yang membacakan doa istisqa." 

Di dalam kitab Sahih Muslim telah disebutkan sebuah hadis melalui jalur Abdur Razzaq, dari Ma'mar, dari Hamman, dari Abu Hurairah, dari Nabi Saw. yang telah bersabda:

Seekor semut pernah menggigit salah seorang nabi dari kalangan nabi-nabi (terdahulu), maka nabi itu memerintahkan agar kampung semut itu dibakar. Maka Allah menurunkan wahyu kepadanya (seraya menegurnya).”Apakah karena seekor semut yang menggigitmu, lalu kamu binasakan segolongan makhluk yang bertasbih ? Mengapa kamu tidak membunuh seekor semut saja?”Tafsir Ibnu Katsir Dari aplikasi Quran Tadabbur, download dan mulailah tadabburi quran anda

Senin, 08 Juni 2020

JANGANLAH PERKATAAN MEREKA MEMBUATMU BERSEDIH

#Bahasa_Arab_Ideologis

‏﴿ فَلَا يَحْزُنْكَ قَوْلُهُمْ ﴾
(Allah SWT berfirman) Janganlah perkataan mereka membuatmu bersedih

لا تؤلم نفسك بكثرة التفكير لماذا قالوا لماذا فعلوا،
Jangan sakiti dirimu dengan banyak memikirkan kenapa mereka mengatakan (ini itu), kenapa mereka melakukan (ini itu).

ثق بربك ثم بنفسك
Percayalah saja pada Tuhanmu kemudian percayalah pada dirimu sendiri

طالما هم بشر فليس لديھم سوى الكلام ولا يملكون نفعاً ولا ضراً
Selama mereka manusia, maka mereka tidak memiliki apa-apa kecuali perkataan dan mereka tidak dapat mendatangkan manfaat dan tidak juga bahaya.

فلا تعطِ الأمر أكبر من حجمه وفوض أمرك لله سبحانه.
Maka janganlah memberi perhatian terhadap hal tersebut lebih dari ukurannya, tapi serahkanlah semua urusanmu kepada Allah SWT.

https://www.facebook.com/groups/277359125647099/permalink/2974915815891403/